Nasionalisme di Rumit
Januari 13, 2008
Di kuadrilogi Rumit pertama, Rumit Garden, gue memasukkan banyak unsur-unsur Indonesia ke dalamnya. Iya donk, gue kan nasionalis. Mungkin gue bisa jadi chauvinis dan mulai menjajah bangsa lain…hahhaha. Hidup Merah Putih!
Contoh yang paling mudah dikenal ialah Wolfie dan Raissa. Raissa selalu memakai baju merah sementara Wolfie memakai jaket putih. Kebetulan? Enggak lah, itu disengaja. Lalu saat Wolfie diberi kertas origami oleh Oris, kertas itu merah. Tau kan kalo kertas origami cuma berwarna di satu sisi? Berarti kertas itu merah-putih. Hebatnya diriku!
Begitulah, kalo Rumit udah jadi berarti gue ikut meningkatkan rasa nasionalisme rakyat Indonesia. Iklan negara yang terselubung…heuhuehueuhue.
Bicara nasionalisme, seperti yang kalian tau negara kita sedang mengalami degradasi nasionalisme bahkan saat Anda membaca entri ini! Mengejutkannya lagi, penurunan nasionalisme disebabkan oleh pemerintah itu sendiri!! Sialan, media massa malah selalu berkata bahwa “kaum muda” Indonesialah yang menyebabkan penurunan nasionalisme. Mereka masih takut pada pemerintahan ya.
Oia? Apa elo ga percaya? Liat aja anggota DPR yang senang melancong ke luar negeri. Mereka itu tidak memedulikan negara sendiri! Atau guru-guru di sekolah yang selalu membandingkan Indo dengan negara lain dan merendahkan Indonesia. Para guru tidak akan berpendapat seperti itu kalau pemerintah bekerja dengan benar!
Coba elo liat kawan-kawan kita yang lebih peduli pada bangsa. Tengoklah para hacker yang selalu berusaha memperbaiki keamanan Indonesia. Lihatlah semangat para desainer volunteer demi Indonesia. Lihat juga prestasi anak bangsa dalam olimpiade internasional. Lihat para Pro Gamer yang menjadi juara internasional. Lihat, kalo elo emang punya mata!
Aduh, jadi nyamber ke sini.
Balik lagi deh. Untuk menaikkan nasionalisme, beberapa karakter di Rumit juga memakai nama Indonesia. Um, belum sepenuhnya Indonesia seh, tapi setidaknya menunjukkan bahwa Rumit itu mengindonesia. Muak kan elo semua sama nama-nama sinetron yang alay-alay. Enggak juga kaeknya, beberapa sinetron udah pake nama Indonesia lagi. Gue ga terlalu peduli seh, gue ini kan Anti Sinetron.

