Misalkan gue gak jadi mati di sini. Atau di sini. Nah…eh? Jadi begini loh, kalo misalnya gue ga jadi mati di dua tempat keren tersebut, gue masih ada pilihan tempat lain yang lebih nampol! Gue ga mau mikirin dulu di mana gue bakal dikubur, karena itu urusan nanti. Itu juga bukan urusan gue seeh, kan yang ngurusin penguburan geu bukan gue. Ngapain gue atur-atur segala, coba?

Tapi gak ada salahnya kan kalo gue milih tempat mati gue? Tempat mati itu merah, Jendral! Kalo gue mati di tempat mantab kan bisa dikenang orang. Wuah, impian terbesar gue tuh. Stop. Selesai prakatanya.

Oke! Nominasi Kedua!!

Mr Darcy’s Estate di film Pride & Prejudice

Udah pada nonton filmnya kan? Bukan yang jadul! Pride & Prejudice keluaran 2005 itu loh! Udah kan? Oke, berarti elo udah tau donk tempat kaek apa itu?

Yup, mantab sekali! Superkeren. Gila, kaek dongeng aja. Padang rumput luas terbentang mirip saluran limbah raksasa bawah tanah yang udah kesiram sama udara Middle-Earth. Di samping-samping padang itu ada beberapa pohon yang kira-kira setua Yggdrasil, berakar raksasa menembus tanah dan menjadikan bumi, jotunheimr dan aesir terhubung. Danau gak berwarna kaek tumpah di ujung padang, isinya Water Horse dan beberapa sahagin.

Ya…udah. Gakjelasnya selesai di sini ya! Nyadar dikit napa kalo kita hidup di dunia nyata!

Jadi gue mati di jendela lantai duanya. Di samping kamar Georgiana, kamar yang ada piano besar. Gue mati pas angin berembus pelan. Georgiana memainkan sebuah lagu misterius yang anehnya terasa damai, berulang-ulang, ulang, ulang dan ulang.

Baru aja gue merem buat nikmatin suasana Inggris kuno–gue disemprot pake pistol air sama seorang cewek. Elizabeth, tapi pandangan gue jadi agak kabur dan gue ngerasa kalo yang nyemprot gue itu Ayla.

“Heiiy…!”

Siapa lagi coba yang bisa teriak kaek gitu?

Semakin pandangan gue kabur, lagu yang keluar dari kamar sebelah semakin cepat. Semakin keras. Ayla–atau Elizabeth, whatever–masih berteriak “hei” ke gue, seperti memaksa gue untuk fokus. Saat angin berembus kencang dan suara piano mencapai titik tertinggi, gue mati.

Pistol air itu tidak berisi air. Isinya adalah bakteri yang dapat mensekresikan enzim reaksi-cepat. Tubuh gue hancur perlahan seakan setiap pixel dari sprite gue di-delete. Ilang satu-satu. Whoa. Yang tersisa dari gue cuma jaket bersimbah darah. Jasad gue gak ada. Ilang total.

10 Tanggapan ke “Tempat Terbaik untuk Mati (3)”

  1. neorhazes Berkata

    wah,
    hanya satu kata yang bisa menjelaskan..

    keren

    “HEIII” ayla quotes everyday

    hha

  2. scarion Berkata

    heiiy shoot!

    …she said *halah*

  3. kuechtea Berkata

    ada kata biologi nya

    ‘__’;

  4. pink Berkata

    ikh… itu yang terakhir2 ngeri deh…

  5. StreetPunk Berkata

    Hehehe.. :) Sempat-sempatnya mikirin mati. Hidup aja udah susah dipikirkan. :P

  6. scarion Berkata

    @pink: iya, ngeri juga ya. Gue dapet ide itu dari film Cube: Zero

  7. abahoryza Berkata

    mati aja kok repotttt DASAR BLOGGER

  8. missglasses Berkata

    yalilah, mati aja nawar tempat. terserah Yang Di Atas kaleee. hahaha

  9. scarion Berkata

    @abah: ya repot lah, orang hidup aja repot! Berarti mati lebih repot daripada hidup, gitu loh.

  10. recca_rebellion Berkata

    y ampun ayla bgt.
    “heiiy sutt..”


Tinggalkan Balasan