Misteri Pulang Sekolah

Lalu Juni berhenti. Rea agak berhenti juga dan kontak mata dengannya. Di jam pulang sekolah seperti ini biasanya mereka berdua membuktikan kepada dunia bahwa mereka adalah kunang-kunang, bukan kupu-kupu, dengan makan-siang-telat dulu di suatu tempat.

Oia, kunang-kunang itu artinya sekul-nangkring-sekul-nangkring, lawan dari kupu-kupu yang berarti sekul-pulang-sekul-pulang.

“Jadi ini, Jun, pusat keingintahuan lo?”

Lalu Juni jalan lagi. Rea yang tadi masih agak jalan menjadi jalan penuh. “Yeah…” kata Juni. “Makanya gue penasaran.”

Rea tuh sebenernya ngerti dilema yang dihadapi Juni. Jahh, walau pun dilema yang satu ini gak penting-penting amat, tapi teuteup…masalah ini bikin setengah arwah Juni penasaran. Siapa sangka dari sebuah pemikiran iseng menjadi seobjek obsesi yang kemungkinan besar bisa nyamber ke Rea.

Rea juga ikut-ikutan penasaran seeh.

Tiap pulang sekolah misteri ini selalu berusaha menyelimuti Juni. Pertanyaan-pertanyaan pun meluber keluar dari vektor keingintahuannya. Siapa? Ia pikir mungkin saja ada attaché untuk diri-”nya”. Kapan? Saat Juni masih di vicinity saja ia masih belum bisa tahu. Di mana? Dimanapun Juni berada “ia” dapat dengan cepat masuk ke dalam blindspot.

” Yauda lah, biarin aja. Gak penting ini,” Juni berjalan lebih cepat. “Heh, pulang sekolah…”

Tapi Rea gak setuju Juni langsung meninggalkan kasus ini begitu aja. Soalnya dia juga ikut penasaran. Bisa jadi rasa penasarannya Rea lebih besar dari Juni. “Baru dua hari langsung nyerah gini?”

Juni masih jalan.

“Yaelah, kalo emang udah ga bisa dipikirin ya tanya aja langsung!”

Juni balik badan. Hm, sepertinya sifat Rea udah overlapping sama sifat Juni. Apakah Juni menjadi semakin mirip Rea? Bukankah Rea yang berubah? Apa yang terjadi dengan sifat counter-Rea-nya Juni? Siapakah dia dan ia apakan Juni yang dulu?

“Elo tau sendiri kan kalo rasa penasaran gue tuh dateng gara-gara gak ada sebersit pun kesempatan?”

“Ya siapa tau aja kesempatan itu dateng sekarang,” Rea membalas. Dan menambahkan, “Kok nada-nadanya kaek elo mau nembak cewek ya? Argh! Gaya bahasa kita kaek gini seeh, kalo ada yang denger pasti ngiranya begitu!”

“Lagian elo ngomongnya ‘tanya aja langsung’, itu kan…ugh! Kita juga seeh ngomongnya abstrak di awal-awal!”

No doubt kalo mereka berdua emang soulmate. Jalan pikirannya sama.

Dua cowok itu tiba-tiba sudah berada di kantin dan menemukan objek pembicaraan/penasaran mereka berada di situ, meminum milkshake dengan siphon. Di sebelahnya ada Oris. “Belom pulang, Ta?” tanya Rea.

“Ya gitu deh. Elo berdua juga ngapain balik lagi ke sini?”

“Bosen aja,” jawab Juni.

“Bosen kok balik ke sekolah?” Oris heran dengan jalan pikiran Juni.

“Elo juga ngapain di sini Ris? Emang lo pulang naek apa?” tanya Rea.

“Dijemput,” jawab Oris. Singkat. Jelas. Padat.

Lalu Juni angkat bicara. “Terus elo pulang naek apa Ta?”

“Dijemput juga. Neh lagi nungguin.”

Rea melirik ke Juni dan mengisyaratkan Tuh, udah gak penasaran lagi kan?

Juni bales dengan isyarat Uda gue bilang gak penting-penting amat.

5 komentar

  1. reccarebellion on

    beuh, seandainya gw tau perumpamaan org2 itu..

    -pertamax-

  2. laraaas on

    zzzz ga ngerti
    who are they?
    sangat abstrak buat gue

  3. neorhazes on

    ta?

  4. reccarebellion on

    tau yak, Rea klo nulis ga jelas orang2nya

  5. Rea_sekar on

    @semua: sori, Ta itu sebenernya Jelita. Ay kira uda ketulis ternyata belum ya maklum saja lah


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.