Wawancara dengan Harris Soetanto
Pada awalnya penulis bingung sembilan keliling. Sangatlah susah memulai sebuah wawancara! Penulis sangat tidak berpengalaman dalam hal ini. Penulis pun kurang tahu siapa saja narasumber yang bersekolah di luar Jakarta.
Setelah berdiam diri di samping Masjid Arief Rahman Hakim, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Jawa, Indonesia, Asia Tenggara, Asia, Dunia, Bumi, penulis teringat pada sebentuk laki-laki yang berasal dari SMAN 1 Bekasi.
Bekasi! Itu luar Jakarta!
Penulis langsung dengan sigap menubruk sana-sini dan mendorong dia-siapa dan menonjok musuh-musuh pengahadang antara penulis dan narasumber. Penulis tidak peduli berapa korban keberingasannya selama penulis dapat mencapai tujuan utama nan mulia dalam wawancara: menemui narasumber. Penulis pun tidak segan-segan melepaskan jurus sinar maut dari telapak tangannya jika memang dibutuhkan.
Sangat mudah menemui Harris Sutanto. Sangat susah menemui Harris Soetanto. Bayangkan jika keduanya adalah orang yang berbeda dan Anda disuruh memanggil salah satu dan Anda belum kenal si “salah satu” itu. Bagaimana Anda bisa membedakan yang mana yang seharusnya Anda panggil?
Beruntunglah penulis karena hanya ada satu Harris di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
“Oi, Ja!” sahut Harris. Seperti biasa ia mengenakan ransel dan mengenakan ransel dan… mengenakan ransel. Ya. Penulis menghampirinya dan memukulinya sampai pingsan. Tidak. Kami pun berjalan ke sekitar tempat parkir untuk mendapat tempat berfoto bersama yang pas, tentu saja dengan seorang sukarelawan yang mau menjadi juru foto kami berdua. Ya. Lalu penulis mengambil golok dan menggolok[sic] lehernya. Tidak. Setelah berfoto dengan ponsel penulis, dilanjutkan dengan berfoto dengan ponsel narasumber. Ya. Kami akhirnya mencari tempat lesehan untuk wawancara, di depan mobil yang sedang ingin keluar dari parkiran sehingga mobil tersebut tidak jadi jalan karena kami menghalanginya. Ya. Tidak.
Di antara mahasiswa-mahasiswi seperjuangan yang sedang menulis di buku masing-masing, penulis dan narasumber saling tukar bicara.
Penulis memulai dengan bertanya alamat. Harris Soetanto tinggal di perumahan Taman Wisma Asri, blok T, nomor 14, daerah Bekasi Utara, kota Bekasi, provinsi Jawa Barat, pulau Jawa, negara Indonesia, kawasan Asia Tenggara, benua Asia, wilayah Dunia, planet Bumi. Untuk saat ini (sepertinya, penulis ragu tetapi tidak mau bertanya) Harris tidak kos di Salemba. Ia tahan pulang-pergi dari Salemba ke Bekasi tiap hari.
“Kayak elo enggak aja,” potong Harris saat penulis sedang mencatat paragraf di atas.
Harris Soetanto selalu naik Kereta Rel Listrik untuk bolak-balik ke Salemba. Setelah penulis bertanya rupanya menurut Harris rumahnya hanya berjarak “satu angkot” dari stasiun Bekasi. Penulis terdiam sesaat membayangkan jarak “satu angkot”.
Apakah “satu angkot” itu sejauh Kampung Rambutan ke Pekayon dengan angkot K40? Penulis memutuskan bahwa pernyataan ini kurang penting.
Penulis lalu bertanya hal yang telat ditanyakan. Biasanya pertanyaan ini ditanyakan setelah nama dan nama panggilan. Benar sekali, “tempat dan tanggal lahir”!
Harris mengakui bahwa ia lahir di Tangerang pada 11 Agustus 1993, menjadikannya sebagai penghuni Bekasi tidak sejati dan sebagai junior yang pantas diplonco. Tentu saja penulis tidak berkata seperti itu ke Harris. Tetapi Harris melihat tulisan penulis dan langsung merobeknya————————————
———————————————–ah, hilang sudah satu paragraf yang lumayan panjang. Sebelum penulis bertanya lebih lanjut, narasumber telah angkat bicara lebih dulu. Ia menyebutkan Nomor Pokok Mahasiswa-nya yaitu 1006775325. Ia juga berkata bahwa alasan mengapa ternyata ia lebih muda dari kebanyakan mahasiswa-mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia adalah bukan karena ia terlalu cepat masuk jenjang Sekolah Dasar, melainkan karena sewaktu Sekolah Menengah Atas ia masuk kelas akselerasi.
Harris memang pintar. Tetapi ia kurang pintar dalam mengemudi. Ia berkata seperti itu setelah penulis berkata bahwa penulis selalu bawa mobil jika sedang ada acara untuk Mahasiswa/Mahasiswi Baru Universitas Indonesia di Depok.
Lalu Harris menceritakan riwayat pendidikannya. Ternyata memang selama TK sampai SD ia berada di Tangerang. TK-nya adalah TK Bunda Tangerang dan SD-nya adalah SD Yadika Tangerang. Nah, saat ia mencapai kelas 5 SD-lah ia mulai menjadi penghuni kota pinggiran paling terkenal di Indonesia: Bekasi!
Bekasi! Itu luar Jakarta!
Menurutnya ia pindah ke Bekasi karena orang tuanya pindah ke Bekasi. Sangat tidak mungkin jika ia pindah ke Bekasi karena tetangganya pindah ke Bekasi. Di Bekasi ia melanjutkan sekolahnya di SD Mutiara 17 Agustus Bekasi dan juga SMP-nya bertempat di sekolah yang sama. Setelah itu, telah jelas, ia SMA di SMAN 1 Bekasi, kelas akselerasi. Di SMA inilah ia mengikuti bermacam lomba, salah satunya adalah juara harapan 1 lomba merakit robotik perorangan antarsiswa-akselerasi di Jawa Barat.
Ternyata, pemilik nomor telepon rumah 0218848870 dan nomor ponsel 085693703884 dan alamat surel harris_sutanto@yahoo.co.id dan harrissoetanto01@ui.ac.id ini sedari kecil sudah bercita-cita menjadi dokter. Ia menganggap pekerjaan dokter sebagai pekerjaan mulia. Penulis yakin Anda juga berpendapat demikian (mengenai apa pendapat penulis tidak akan dibeberkan di sini). Ia berkata bahwa sudah seharusnya sesama makhluk Tuhan kita saling menolong, walaupun kita tidak perlu menolong Iblis. Ia juga, ternyata, gemar membaca. Menurutnya buku adalah gudang yang senantiasa digrendel, dan hanya beberapa orang yang bisa membuat kunci duplikatnya. Menurutnya, ia termasuk orang-orang cerdas yang bisa melihat isi gudang ilmu itu.
“Eh, tapi gue gak sombong ya,” ujarnya.
Ia pun bercita-cita menjadi dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, lalu menjadi konsultan di bidang tersebut. Dan belajarnya tidak akan berhenti sampai situ saja. Mungkin ia akan mengejar gelar profesor. Mungkin juga tidak. Penulis tidak tahu.
Tiba-tiba Harris berkata bahwa kuliah jam pertama sudah mau mulai, dan kami langsung berlari ke kelas.
