Fantasy Fiesta 2011: Menara Tengah Hutan
Akan kuceritakan padamu sebuah kisah. Kisah tentang penderitaan. Kisah tentang keyakinan dan keberanian, tentang harapan dan usaha. Kisah tentang kebebasan. Kau akan merasa seperti pernah mendengar kisah ini entah di mana, tetapi itu bukan masalah. Akan tetap kuceritakan padamu.
Tersebutlah sebuah keluarga. Keluarga peri, sepasang suami-istri dengan seorang anak gadis. Setengah abad telah berlalu semenjak anak gadis tersebut lahir, lebih tepatnya 55 tahun. Gadis peri yang dinamakan Jelita tersebut kini sudah bisa dianggap dewasa, bahkan sudah lima tahun melewati batas dewasa. Namun malang melanda keluarga tersebut, karena sang ayah dikabarkan sekarat tepat saat perayaan ulang tahun Jelita ke-55; sekarat setelah mengabdi di barat jauh menghalau Pasukan Putih.
Setelah dipulangkan, tak lama sang ayah meninggal. Jelita dan ibunya hanya bisa bersedih di pemakaman ayahanda, tetapi tidak lebih bagi Jelita. Karena jiwa peri tidak akan pergi meninggalkan Cakrabuana, Lingkaran Dunia, tidak seperti hewan. Namun ibunda Jelita ternyata sedih berkepanjangan sehingga kini dirinya sekarat. Ya, sekarat karena bersedih: bangsa peri bisa meninggal dari tiga hal, yaitu luka parah, kelaparan dan sedih mendalam, tetapi tidak dari umur.
Melihat keadaan ibunda Jelita urung bergeming. Tidak akan ia biarkan orang tua satu-satunya pergi ke Aula-aula Surgawi. Tidak dengan kesedihan. Oleh karena itu, atas izin Yang Satu, Jelita teringat pada peribahasa yang pernah ibunda katakan dua puluh tahun lalu.
Seorang ibu sangat mengerti cara hilangkan sedih putrinya.
Jelita simpulkan bahwa yang mengerti kesedihan ibu adalah ibu dari ibunda, yaitu nenek. Nenek Jelita, sepengetahuannya, adalah seorang penyihir. Umum diketahui bahwa penyihir-penyihir semuda neneknya masih mengabdi di menara-menara yang terletak di tengah hutan, dan karena itu Jelita belum pernah mengenalnya secara dekat.
“Di manakah nenek mengabdi, Ibu?”
Di kamar tersebut, yang jendelanya menghadap taman bunga sederhana, lirih ibunda menjawab. “Hutan Embun Perak. Menara Penyihir.”
“Tenang, Ibu, aku akan menemui Nenek agar Ibu sembuh.”
“Tidak perlu!” sergah ibunda. “Biarkan Ibu bersama Ayah.”
“Tidak, Ibu!” Jelita tak mau kalah. “Ibu tidak perlu menderita seperti ini. Aku akan temui Nenek, lalu semua akan baik-baik saja.”
Ibunda Jelita pun terlihat menyerah. Ia memejamkan mata dan berpaling. Melihat ini, Jelita beranjak keluar kamar. Tepat di ambang pintu sang ibu menyahut. “Jelita,” katanya. Jelita berhenti dan menoleh. “Semoga keputusanmu benar.”
Begitulah, dengan berkah ibunda dan sebuah kalung warisan yang akan membuat Nenek mengetahui siapa dirinya, Jelita beranjak ke Hutan Embun Perak. Hutan tersebut berada di seberang timur dari kota Jelita tinggal, tidak sampai sehari perjalanan. Ia telah menyiapkan segala yang dibutuhkan untuk perjalanan ke sana, mulai dari air minum sampai kuda. Penduduk sekitar tidak terkejut melihat apa yang ia lakukan, karena mereka tahu darah keluarga sang ayah mengalir di dirinya. Darah Jagawana Barat yang tangguh dan tangkas. Namun bukan berarti tidak ada yang menawarkan diri menemaninya. Hanya saja Jelita tidak ingin ditemani, karena baginya ini kesempatan untuk mengenal Nenek secara pribadi.
Seorang pemburu tidak hirau. Jelita tidak tahu akan hal ini.
Menembus hutan, kira-kira seperempat hari perjalanan, Jelita terpaku di sebuah percabangan. Jalan yang dilaluinya kini terbelah dua, dan keduanya terlihat sama: sama tenang dan sama bahaya. Di sinilah cerita sebenarnya baru dimulai. Aku tahu bahwa kau, sebagai pembaca, pasti menunggu kejadian berikut. Aku tahu, jadi simaklah.
Semak di sudut mata Jelita bergesek. Sebentar. Jelita menoleh lalu turun dari kuda. Semak tersebut bergesek lagi. Sekali lagi. Ketika itu Jelita menyingkirkan kuda ke sudut terjauh, dengan mata yang masih terpusat pada semak tersebut. Tangannya bersiap di sebilah pisau di pinggang. Keluarlah sebuah sosok dari semak.
Jelita mendapati seekor serigala berbulu putih. Terlihat begitu besar, juga begitu tenang. Tanduk tunggal di moncong serigala ikut terangguk-angguk saat mendekati Jelita langkah demi langkah. Bergeming Jelita, tangannya melepas gagang pisau, karena serigala akan menganggapnya berbahaya jika ia berlari. Jelita juga tahu bahwa semua serigala bisa bicara, oleh karena itu sangat tidak bijak jika menyerang mereka hanya karena takut.
Masih bergeming Jelita. Entah kapan serigala itu akan mengutarakan alasannya muncul di depan Jelita. Lelah menunggu, Jelita angkat bicara. “Ada yang bisa kubantu, Tuan Serigala yang baik?”
“Bantu?” kerling sang serigala. Kini ia yang bergeming, mungkin berpikir sejenak. “Ah ya,” lanjutnya tiba-tiba, “mungkin maksudmu apa yang bisa kubantu,” kini sang serigala duduk. “Dengan senang hati peri jelita sepertimu akan kubantu. Kebetulan aku lewat sini. Mungkin kau butuh petunjukku.”
“Sungguh sebuah kebetulan,” lega ucapan Jelita, tiada sedikitpun nada curiga. “Tuan, aku sedang dalam perjalanan menuju sebuah menara. Kini aku dihadapkan kepada dua pilihan jalan. Manakah yang sebaiknya kutempuh?”
“Ah, Menara Penyihir,” sahut serigala putih. “Kuyakin ini urusan mendesak.”
“Anda benar, Tuan.”
Serigala putih memejamkan mata sejenak, lalu berdiri dan mulai berjalan, agak mengitari Jelita, dengan kepala yang menoleh ke percabangan jalan. Berjalan ia dari sudut kanan ke sudut kiri, lalu kembali ke kanan dan duduk kembali. “Lewat sini,” katanya tanpa menoleh ke Jelita. “Jalan ini akan membawamu lebih cepat ke menara tersebut,” tambahnya seraya berdiri dan menghadap Jelita.
“Benar begitu? Terima kasih, Tuan Serigala yang baik.”
“Ya. Tetapi sayang sekali, Peri Jelita. Jika urusanmu tidak mendesak aku akan menyuruhmu lewat jalan kiri, karena melalui jalan itu akan banyak kautemukan keindahan Hutan Embun Perak.”
Kini Jelita sudah di atas kuda. “Terima kasih, tetapi memang urusanku mendesak. Mungkin lain kali. Sekali lagi terima kasih, Tuan Serigala!” sahut Jelita sambil memacu kudanya ke jalan kanan. Serigala putih masih berdiri bergeming sampai Jelita menghilang di balik pepohonan, lalu bergegas ke jalan kiri.
Apa yang tidak serigala dan Jelita ketahui adalah bahwa seorang peri pemburu memerhatikan obrolan barusan. Merasa ada yang salah, sang pemburu berlari masuk ke jalan kiri, mengejar serigala. Aku akan membiarkanmu, pembaca, berpikir tentang apa yang tersirat pada kejadian tadi. Silakan.
Baik, waktumu selesai. Kini simaklah. Jelita masih mendapati pepohonan di kiri-kanan sampai petang. Tidak sedikitpun terlihat suatu bangunan yang menyerupai menara. Mungkin serigala putih berbohong, mengarahkan Jelita ke jalan yang memutar jauh alih-alih pintas. Mungkin juga letak Menara Penyihir sebegitu jauhnya sampai-sampai jalan terpendek pun masih terasa panjang. Apapun itu Jelita sudah tidak peduli. Ia sudah terlalu jauh.
Masih Jelita menyusur pepohonan tiada ujung, meski hujan sudah berhasil menembus atap dedaunan. Tudungnya basah, kudanya pun sudah terlihat lelah. Alangkah beruntung Jelita karena tak lama di depannya menjulang sebentuk tiang melawan langit. Sebuah menara di tengah lautan hijau. Jelita melambatkan laju kuda, dan oleh nasib, hujan pun melambat.
Semakin mendekat ke raksasa gading, Jelita menyadari bahwa sekarang sudah mendekati tengah malam. Ia menuntun kuda menyeberang halaman luas di depan menara, kepalanya meniti tingkat demi tingkat Menara Penyihir dan berakhir pada kegelapan pekat. Bintang Utara terlihat di samping bilah menara, hampir tertutup olehnya.
Jelita dan kudanya telah berada di pintu utama Menara Penyihir. Ia agak canggung sekarang, karena ia tidak tahu bagaimana sepantasnya bersikap di depan penyihir. Apalagi ini penyihir yang tinggal di menara. Ia ingin mengetuk, tetapi tampaknya pintu di hadapannya tidak pantas untuk diketuk. Ia bahkan tidak tahu apakah kudanya pantas ikut masuk lewat pintu utama. Sejurus kemudian ia menyadari bahwa seberkas cahaya menyelinap dari tengah bilah pintu, yang berarti pintu tersebut sedikit terbuka. Dicobalah mendorong pintu dan masuk.
Kesan yang ia dapat di dalam adalah megah. Bukan megah, tetapi agung. Benar sekali, Jelita rasa “agung” lebih pantas. Terhampar selasar luas beratap tinggi dalam jarak pandangnya. Tiang-tiang kokoh lalu-lalang di samping. Tangga-tangga dingin terdiam di sudut. Tetapi ada yang salah, menurut Jelita. Ada perasaan yang mengatakan bahwa ini tidak tampak seperti yang seharusnya.
Terlalu sepi.
Entah oleh apa, Jelita berjalan ke suatu arah. Ditinggal kudanya di selasar depan, dilepasnya tudung basah di tiang gantungan di sana. Ia biarkan gema langkahnya menerpa tembok dan tiang. Kini Jelita menaiki tangga curam yang sunyi, terus berjalan ke arah yang seakan-akan menuntunnya. Masuk ke selasar lain, ia jalan lurus ke depan, ke sebuah pintu besar lainnya. Itu arah yang ia tuju, yang dari sela pintunya keluar cahaya hangat.
Baru dibuka pintu tersebut Jelita terpaku melihat isinya. Ada sebuah meja panjang dari ujung ke ujung, lengkap dengan banyak kursi di samping-sampingnya, tidak lupa dua kursi yang jauh berhadapan. Selain meja dan kursi Jelita yakin ada perapian di ruangan itu, tetapi ia tidak begitu peduli di mana. Lilin-lilin yang terpasang pada penyangga besi yang tergantung di atas menumpahkan sinarnya pada berbagai macam hidangan yang membuncah di atas meja besar tersebut: sup panas, roti hangat berbau bawang, daging-daging penuh saus, buah-buahan dan sayur-mayur segar, minuman keras dan ringan, dan banyak lagi yang tidak begitu ia hiraukan.
Sungguh terlalu mewah untuk sebuah menara yang sepi.
Samar-samar Jelita menangkap sesosok orang di kursi terjauh. Hanya bayang-bayang, karena sudut tempat sosok tersebut duduk tidak begitu tertimpa cahaya. Jelita tidak begitu yakin, tetapi sosok tersebut seakan-akan menyilakannya duduk, dan menyantap hidangan.
“Nenek?” kata Jelita setelah duduk. “Kukira Menara Penyihir tidak akan menerima surat merpati, tetapi Nenek rupanya menungguku.”
Sosok yang dipanggil Nenek bergeming. Jelita juga, karena ia menganggap ini sebagai tanda bahwa tidak boleh berbicara ketika makan. Maka disantaplah hidangan di depannya, mengingat ia lapar setelah seharian berkuda.
Jelita merasa aneh ketika memakan daging. Entah apa, tetapi perasaan itu cepat hilang. “Mungkin karena aku sudah lama tidak makan daging,” pikirnya.
Hanya setengah jam acara makan-makan ini. Jelita merasa hampir kenyang, dan hidangan di meja sudah berkurang hampir seperempat. Ia memandang ke seberang, melihat bahwa neneknya tidak terlihat bergerak barang sedikit pun. Bukan begitu, yang ia lihat adalah neneknya seakan-akan mengamati dirinya alih-alih ikut makan. Mengamati lekat-lekat.
“Nenek?” sekali lagi Jelita mencoba memastikan sosok di seberangnya. Masih diam.
Jelita berdiri dan melangkah mendekat. Tiga langkah. “Nenek, ini aku, Jelita,” katanya sambil menjunjung kalung di leher.
Lima langkah dan Jelita berhenti sejenak. “Astaga, Nenek! Tanganmu kurus sekali.”
Dua langkah. “Nenek, telingamu terlalu lancip! Juga terlalu besar.”
Empat gema langkah. Bayangan Jelita menutupi sosok Nenek. “Aku baru tahu Nenek punya moncong. Bertanduk, pula!”
Mereka berhadap-hadapan. Terdengar hujan menerpa jendela besar di belakang kursi Nenek. Kilat menyambar sekali, gunturnya tidak terdengar. Tetapi kilat tersebut berhasil memberi Jelita pandangan atas sosok di depannya. “Nenek, rambutmu benar-benar putih! Ah, tunggu—“
“Selamat petang, Peri Jelita.”
Baru gunturnya datang. Jelita menggeser kursi di belakangnya dan terjerembab, terkejut dengan sosok yang baru saja ia kenali tadi siang. Maukah kau menebak siapa sosok tersebut?
“Tuan Serigala,” sahut Jelita, dengan nada ramah bak pemilik toko yang mengenali pelanggannya. “Maaf, kukira kau nenekku.”
Serigala putih masih berdiri dengan canggung dari kursi ke meja, seperti berdiri di tangga. Jawabnya, “Tidak, tidak. Seharusnya aku yang meminta maaf. Aku telah mengagetkanmu dengan berdiam diri. Kukira sudah budaya peri untuk tidak berbicara di ruang makan?”
“Ah, itu sudah tidak berlaku jika makan telah usai. Bagaimanapun, terima kasih atas hidangan Tuan.”
“Terima kasih kembali,” jawab sang serigala. Lalu hening. Canggung. Hanya jendela yang masih ribut dengan rintikan hujan. Serigala putih terlihat agak menghindari pandangan Jelita, napasnya begitu terdengar karena hening.
Akhirnya Jelita angkat bicara. “Mengapa menara ini sepi? Kukira para penyihir hanya keluar menara jika mendapat panggilan pemerintah.”
Serigala menoleh. “Para penyihir… mereka sedang keluar untuk meneliti sesuatu. Hal-hal yang berkaitan dengan tetumbuhan, jika aku tidak salah dengar.”
“Lalu mengapa Tuan berada di sini?”
“Aku di sini,” tercipta sebuah jeda sejenak. Mata sang serigala terasa berkilat. “Aku di sini untuk menunggu menara. Sepertinya mereka, para penyihir, tidak ingin menara kosong sepenuhnya. Apakah aku tidak pantas menjadi penunggu menara?” tawa serigala.
Jelita tertawa kecil. “Tidak, Tuan, sama sekali tidak. Aku hanya berpikir bahwa jika kau menjaga menara, mengapa kita bertemu di hutan?”
Serigala terdiam. Mendadak ia turun dari meja/kursi, menoleh ke Jelita, dan berkata, “Sudah larut, Peri Jelita. Sudikah kau kutunjukkan kamar tamu?”
“Ya, terima kasih. Anda terlalu baik, Tuan.”
Sambil berjalan serigala putih membalas, “Sudah tugas tuan rumah untuk melayani tamunya.”
Maka malam itu Jelita tidur di kamar tamu di lantai tiga. Dalam tidur ia melihat ibunda, masih duduk berselimut di atas kasur. Jendela terbuka yang memperlihatkan taman bunga kali ini tidak dihiraukan Ibu. Ia hanya memandang setangkai bunga di tangannya. Sang ibu memandanginya dengan wajah ceria, seakan-akan tidak pernah murung seumur hidup, seakan-akan sedihnya hilang. Jelita melihat sekilas dan tahu bunga apa itu. Jelita pun berpikir bahwa bunga itulah yang menjadi inti pencariannya. Mungkin tidak perlu Nenek untuk memberitahu Jelita, karena Ibu sendiri telah memberi penglihatan kepada Jelita.
Maka Jelita bertekad untuk mencari mawar api.
Keesokan paginya Jelita berjalan ke selasar utama. Kosong. Bahkan tidak ada tanda-tanda Tuan Serigala. Tetapi selasar tersebut bersih, tanpa jejak lumpur yang tadi malam diperbuat sepatu Jelita. Ia juga menyadari bahwa tudungnya terlipat rapi di meja samping tiang gantungan. Sambil merasakan hangat tudungnya, ia berpikir tentang di mana kudanya berada.
Menemukan pintu belakang, Jelita terkesima dengan hamparan taman yang sangat luas. Di sudut kiri terlihat sebentuk istal; kudanya tertambat di situ. Dan di depannya, sebuah petak penuh bunga. Lantas Jelita menyadari bahwa ada semak-pagar yang dirambati mawar api.
Benar, mawar api. Bunga yang duri tangkainya bisa menyebabkan rasa perih seperti dibakar. Bunga yang kelopaknya merah, namun lebih pucat dari darah. Rasa girang membuncah di hati Jelita. Ia berlari-lari kecil sambil sesekali agak melompat, bukti bahwa ia sudah tidak sabar ingin membawa bunga itu pulang. Diraihlah tangkai bunga tersebut, tetapi Jelita lupa memakai sapu tangan sehingga jarinya perih dan tergores.
Putuslah setangkai mawar api. Jatuhlah setetes darah perawan.
Jelita segera bangkit. Tetapi sesaat sebelum ia bangkit sepenuhnya terdengar suara menyalak dari belakang. “Apa yang kaulakukan, Peri?”
“Tuan Serigala. Akhirnya kau muncul—“
“Apa yang kaulakukan?” terus sang serigala bertanya tanpa menghiraukan basa-basi Jelita. Jelita tersentak dan berdiri tegang. Mata serigala dan Jelita terpaku pada mawar api. “Kulihat kau berhasil mencabut setangkai bunga.”
“Iya,” jawab Jelita, setengah bertanya.
Serigala putih mendekat. Tanduk di moncongnya diarahkan ke wajah Jelita. “Kini aku tidak tahu apa yang akan para penyihir minta untuk kupertanggungjawabkan setelah aku gagal menjaga taman bunga ini.”
Jelita merasa bersalah, juga sedih. “Tetapi ini inti kunjunganku, Tuan Serigala. Aku butuh bunga ini untuk ibuku yang sekarat. Sudi kiranya Tuan memaklumi.”
“Tidak!” sergah sang serigala, membuat Jelita berdiri tegang kembali. “Kau harus tetap di sini sampai mereka kembali, karena keputusan ada di tangan mereka.”
Jelita menyerah, dan ia kembali ke kamar. Ditaruhnya bunga itu di gelas berisi air. Ia habiskan hari itu dengan menyesal dan termenung. Salahkah mimpinya?
Tak disangka, malam itu sang serigala menghidangkan makanan mewah lagi. Jelita makan dengan senang, tetapi cukup sampai hari ini; keesokan paginya Jelita menemukan sesuatu yang tak terduga. Sesuatu yang ia temukan saat berkeliling menara karena bosan. Bahkan ia tidak percaya pada awalnya.
Ia temukan sebuah gudang berisi mayat dan belulang. Mayat orang-orang yang dagingnya telah dicabik. Apakah mereka bahan dari makan malam mewah Tuan Serigala? Jelita muntah seketika, tetapi berusaha menyembunyikan pengetahuannya dari serigala. Ia sungguh tidak tahu apa yang terjadi. Jelita pun sadar, malam ini ia pasti makan lagi bersama serigala. Ia harus, karena kunci pintu utama ada pada Tuan Serigala.
“Tuan,” panggil Jelita sebelum makan dimulai, malam itu. Serigala menoleh dari seberang. “Dari mana Tuan dapatkan makanan sebanyak ini?”
“Para penyihir punya gudang makanan yang sangat besar di bawah tanah,” jawabnya cepat.
Jelita bertanya lagi. “Dan dagingnya? Aku tidak melihat peternakan di daerah sini.”
“Apa maksudmu, Peri Jelita? Tentu saja di sini ada gudang untuk daging.”
“Iya Tuan, aku telah melihatnya.”
Sekejap udara di ruang makan menjadi berat. Tampaknya ada yang berkata salah, entah serigala entah Jelita.
“Kau lihat… gudang dingin penuh daging sapi digantung?”
“Tidak, Tuan.”
Seketika itu juga sang serigala melompat dari meja/kursinya. Menerobos berbagai hidangan. Menerobos berbagai pecah-belah. Menyeberang, menuju hadapan Jelita. “Apa yang kaulihat!?”
Jelita menatap tajam sosok serigala jahat di hadapannya. Ia tidak habis pikir mengapa serigala ini bisa berlaku sangat baik pada awalnya, namun menunjukkan bulu aslinya ketika terpojok. “Aku melihat para penyihir,” katanya tanpa membuka rahang. “Mati.”
Apa yang terjadi selanjutnya adalah Jelita berhasil menghindari terkaman serigala putih di ruang makan. Dengan pisau kunci pintu utama terlepas dari leher serigala. Dengan taring pisau di tangan Jelita terlempar. Cepat ia keluar. Ia berlari menghabiskan selasar. Lalu ia menggapai tangga dan terus ke selasar utama. Sementara serigala menyalak-nyalak. Hampir mendapatkan kaki Jelita di selasar lantai dua. Salah menerkam dan memecahkan patung di dekat tangga. Meluncur di pegangan tangga utama.
Kini serigala telah berada di depan Jelita, membelakangi pintu utama. Jelita tidak goyah.
“Bisakah kau buka pintu utama dengan cepat?”
Jelita masih bergeming. Pikirannya sudah buntu, tidak tahu jalan keluar. Ke atas akan sangat melelahkan, serigala bisa mendahuluinya. Ke ruangan di selasar ini malah membuatnya terkurung. Satu-satunya jalan adalah taman belakang.
“Kau telah tahu rahasiaku, Peri Jelita. Takkan kubiarkan kau pergi membawa kabar tersebut.”
Jelita meraih pintu taman belakang. Terkunci. Kini dirinya terpojok. Tidak bisa ia berpikir cara lolos dari terkaman serigala. Matanya menyipit dalam takut. Giginya mengatup dalam lelah. Ia hanya bisa memikirkan satu kalimat untuk serigala. “Mengapa kaulakukan ini semua?”
“Karena para penyihir,” seringai serigala. “Kau pasti terkejut bila kubilang bahwa dulu aku merupakan seorang peri.”
Mata Jelita membesar dalam heran. Giginya membuka dalam diam. Serigala melanjutkan, “Para penyihir menjadikanku bahan percobaan. Mereka gagal, menjadikanku setengah-serigala tahan sihir, dan aku dipasung di pedalaman hutan. Bodohnya mereka tidak tahu kekuatanku setelah menjadi serigala-penuh, maka aku bergegas ke menara ini. Itulah mengapa kau kualihkan lewat jalan lain.”
“Dan mengapa kaubiarkan aku ke menara? Kau bisa saja membunuhku di jalan.”
Serigala terkekeh. “Tidak, tidak. Bisa jadi kau kunci kebebasanku. Salah seorang penyihir berkata, sebelum kematiannya, bahwa kutukan ini bisa hilang jika aku memakan jantung perawan.”
“Kau tidak memakanku di kesempatan pertama.”
“Aku harus memastikan!” salak serigala. “Kepastian itu datang setelah kaulukai jarimu dengan memetik mawar api. Tentu saja, aku bisa tahu kesucian wanita dari bau darah.”
“Kau bisa melukaiku di kesempatan pertama.”
“Dan mengejar kuda? Aku tidak bisa.”
Jelita hampir terkulai. Kini pasti sang serigala akan menerkamnya. Jantungnya. Namun alangkah kebetulan, pintu depan mendadak terdobrak. Bilahnya menimpa sang serigala. Sayup-sayup terdengar suara pria di balik debu. “Mari kita selesaikan ini, Serigala Licik!”
“Pemburu berengsek!” teriak serigala setelah menyingkirkan puing pintu. “Seharusnya kau membusuk di jalan kiri!”
“Kau tidak tahu kemampuan bertahan hidup seorang pemburu.”
Bersama angin sang pemburu dan serigala saling menerkam. Terkaman yang gagal. Gagal bagi sang serigala. Cairan merah yang menetes merupakan hasil dari pedang si pemburu yang menembus punggung serigala. Begitu yang terlihat dari sisi Jelita.
Dan itulah akhir dari kisah ini. Tepat setelah kematian serigala putih, Matahari terbit. Jelita tersungkur dan menangis, sang pemburu mendoakan jiwa serigala. Ketika kicau burung pertama datang, mereka berdua berjalan keluar Menara Penyihir. Begitulah kisah yang berakhir bahagia, jika memang kenyataannya berakhir bahagia. Kurasa kita berdua tahu akhir kisah ini yang sesungguhnya, bukan?
Salam hangat,
Serigala

Hehehehe baru baca nih. ada beberapa suggestion dariku tentang deskripsi:
Di tengah-tengah ketika kau mendeskripsikan menara dengan kata ‘megah’ dan ‘agung’, aku agak bingung. mudah untuk membayangkan menara yang megah, tapi menara yang agung… kembali muncul gambaran menara megah dalam benak. hmm…
‘Selamat petang’ dan ‘Yang Satu’ juga terasa agak ganjil.
Tapi di luar itu cerita yang terasa seperti dongeng ini menyenangkan untuk dibaca. good luck!
dongeng yang bagus!
D
D
si tudung merah?
tapi cara menyampaikannya beneran apik, bikin nggak bosen bacanya.. .. salut..
.
btw, kaget juga, cowok usernamenya ‘Rea Sekar’
hehe.. peace yak.. ^^v
daftar ceritanya dmn sih? br liat 1 cerpen ini aja yg 2011 T_T
wah.. menarik!
shape-nya benar-benar manarik. dibentuk seperti sebuah surat dari sang serigala.. ide yang kreatif sekali
loh? ternyata Anda cowo.. ehehe ^^’